DUNGU KERBAU

Jangan sebut aku dungu kerbau
Apa salah yang sebarkan berbuah gosip
Cacat bukan kutukan Tuhan
Dunia ini banyak bermuka dua

Jangan sebut aku dungu kerbau
Apa salah yang mendamprat dan menghina orang lain
Tidak bersikap acuh tak acuh
Perilaku tidak menentang orangtuaku

Jangan sebut aku dungu kerbau
Apa salah yang pedulikan orang kecil tidak memandang remeh
Mencaci-maki itu bukan perbuatanku
Cukup sudah di sini mau apalagi kukatakan begini

Solo, 17 Mei 2007

**“Ening” Sri Wahyuningsih

DUNIA SUNYI

Ruang pengap dan gaduh yang kelam
Terang benderang cahya mentari
Raut muka berbisik yang ramai
Kanan kiri canda gurauan
Terlontar kata dan kalimat tidak dimengerti

Waktu berhenti di tempat lain
Tidak berombak riak dan diam membisu
Asas berlawanan dengan aku
Di dunia yang bukan tempatku
Yang aku dapati hanya tercela

Mata dan hatiku pelangi
Bernyanyi dan mendengar aku tak bisa
Lidahku yang kelu-kesah
Daun telingaku tidak sempurna
Apa aku berbeda dengan mereka

Ditolakpun tidak mengharap mau menerimaku
Kata sinis dan dicaci-maki membuatku terhina
Hatiku tegas dan tabah dibilang tuli yang tolol
Ke manakah aku berada untuk menerimaku
Tidak ada kedamaian di dunia yang sunyi

Solo, 15 Mei 2007
**“Ening” Sri Wahyuni

AKU DAN KAMU

Aku menurutku
Sama
Dari tanah, air, udara, dan api
Menuju rumah abadi

Aku menurutmu
Berbeda
Dari dosa dan air mata
Hanya dari masa lalu

Aku menurutku
Berbeda tentu dari kamu
Dari cara kita belajar bertahan
Dalam ziarah mencari hidup

Aku
Kamu
Sama sama terlihat
Aku melihatmu

Aku
Kamu
Tidak sama melihat
Kamu melihatku

Kawan,
Jangan hanya yang terlihat
Pun bukan tuk di tafsir sesaat

Kawan, kamu melihatku
Lalu membuat kesimpulan

Bahwa aku bukan kamu
Dan kamu bukan aku, tentu

Tapi, bukan itu mauku
Mengabadikan kesimpulan itu

Mari buka pintu
Kita nanak kesimpulan bersama
Agar kita sama-sama merasa
Dengan persamaan dan perbedaan
Agar kita saling mendewasakan

Mari bersama mencipta pintu baru, lalu
Bersama kita melangkah maju
Pintu sama kita datang
Pintu sama kita pergi

Bukan mauku dan maumu
Jika nanti kita kehilangan semua pintu
Tersesat dalam kesimpulan palsu
Bukan…??

Colomadu, Juni 2007

**Maman Sunarman

NAK,

Nak, bukan begitu kamu seharusnya berjalan
Nak, berjalanlah dengan cara yang hebat
Nak, itu cara Ayah

Nak, bermainlah dengan dua raket itu
Nak, raket itu bukan alas ketiak
Nak, itu cara teman Ayah

Nak, bicaralah dengan lantang
Nak, dunia tak akan mendengarmu
Nak, berteriaklah demi si bisu

Nak,
Apa ucapku kurang lugu?
Sehingga kau anggap angin lalu?

Nak,
Aku tahu bukan hanya telingamu
Aku tahu di kepala mu ada matamu

Nak, aku pun tahu…
Telingamu selalu mendengarkanku
Tapi matamu lebih dekat pada keseharian lugu

Nak,
Aku berusaha tidak pernah memperdengarkan kata itu
Demi apa yang akan kamu katakan

Nak,
Tentang aku
Tentang teman-teman ku

Nak,
Sorot matamu ingin tahu
Apalagi yang ada di kepalamu?

Dan,
Ah, ha ha ha
Nak.

Maafkan aku,
kamu memang anakku,
anakku..!!!

Colomadu, Juni 2007

**Maman Sunarman

MERENDA SAJAK YANG GERIMIS

aku merenda gerimis
dalam diam
seperti sajak itu
yang ingin
menyentuhku
perlahan

perlahan
sajak itu
merenda aku
dalam gerimis diam
yang menyentuh
seperti inginku

dalam diam
ingin aku
merenda sajak
seperti gerimis perlahan
yang menyentuh itu

diam aku
dalam inginku
merenda sajak gerimis itu
yang perlahan
menyentuh
seperti

dirimu


20Mar07

**Millati Syifa,

Pernah

pernah sekali pada suatu siang bersalju,
aku berjalan melawan arah angin yang menderu-deru
aku mencarimu, membawa sendu yang kudekap rapat
dalam jaket tebalku. aku ingin memberikannya padamu,
menangis dalam pelukmu, merasakan usapan hangat di punggungku.

aku terus membayangkanmu, sedang menungguku,
tapi tak kulihat kamu
angin mungkin menghempasmu bersama dingin yang menikam tulang-tulangku. aku mungkin terlambat, aku mungkin kurang cepat, aku mungkin tersesat. aku memang benar-benar tersesat jalan, tersesat dalam kesedihan.

pernah sekali pada suatu siang bersalju,
aku merasa sangat terasing di sebuah kota
dengan rintik-rintik air di mata

**Maria Ingrid

Gumam

warna hujan pada bulan memang lebih terang semenjak
ribuan kupu-kupu itu terbang ke galaksi
pengembara samudera angkasa.
seperti ronin kehilangan samurai, kita hanya bisa andalkan
jejak bintang-bintang untuk menyusuri gersangnya siang
di awang-awang pikiran.

semua kelelahan.
setiap kaki mesti menopang hari beserta detik,
menit, dan beban-beban yang musti dibawa serta.
dan cuaca. siapa bilang waktu membuat kita bijaksana.
lebih sering terlihat yang menua cuma punya ekspresi hampa.
seperti langit pagi yang pucat pasi hadir tanpa suara.

pun kenangan akhirnya menguap begitu saja.
begitu saja, karena malam-malam kita diisi doa yang selalu sama.
tidak menghangatkan, atau juga meringankan.
pulang ke masa depan bukanlah gampang.
karena masa lalu cepat sekali mati atau pergi.
sedang masa kini asik bercermin pada udara maya
yang habis dihirup impian-impian belaka.

tapi matahari masih setia
meski kau meringkuk di nebula fana
ia tetap berjaga sampai sinar terakhirnya

9 Nov 2007

Maria Ingrid

Kunjungan

selalu sekantung rindu
oleh olehku untukmu

bau sawah,
gemerisik air,
kepak burung,
keretak ranting
berderai derai sambut kedatanganku

tumpah ruah segala kisah
kusampaikan dalam monolog bisu
tanpa air mata
hanya hening di hela nafas
sampai puas

lingkaran awan pelangi
berjaga persis di atas kepala
ketika kutinggalkan makammu
meninggalkan rindu dan lilin lilin yang kubiarkan menyala

26 Januari 2007

**Maria Ingrid

Bidadari Diujung Senja

ini cerita tentang ibuku,

timbul sayapnya di kedua bahu,
lalu dia pergi,

katanya untuk menantang matahari,

agar esok tak terbit lagi.

ini cerita tentang aku,

berlari mengejar bidadari,
kujumpai dalam diam,
ibu marah; warna memerah,
senja terbit kembali.

kebajoran.baroe.22.06.06

author : dedy – dedi@….

Cahaya Malam

Dalam kegelapan malam
Dalam kegundahan pikiran
Ku ingin bertemu dengan cahaya malam
Sesuatu yang ku angan-angan
Sesuatu yang selama ini menjadi khayalan
Tak ada perjumpaan
Tak ada obrolan
Hanya pesan-pesan singkat dari handphone
Tapi semua hanya khayalan
Lama ku tak bertemu
Lama ku menantikannya
Cahaya malam itu entah di mana
Apakah aku sudah gagal mendekatinya?
Entahlah
Semuanya cuma angan-angan
Cahaya malam tak di sini
Tapi di sana
Entah di mana berada
Tapi ku ingin menemuinya
Tapi ku ingin menjumpainya
Walau (sekali lagi) hanya dalam khayalan
Mudah-mudahan

**Bradley Setiyadi

« Entri lama